Januari 10, 2011

Rencana Induk Pembangunan Pertanian Kabupaten Solok


Pertanian merupakan sokoguru pembangunan perekonomian Kabupaten Solok pada masa kini dan akan tetap demikian hingga 25 tahun ke depan. Hal ini tercermin dari komposisi Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2006, dimana sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar (45,27%) terhadap perekonomian Kabupaten Solok. Konstribusi sektor lainnya adalah sebagai berikut sektor perdagangan, hotel dan restoran (13,53%), jasa (12,96%), transportasi dan komunikasi (9,83%), industri (6,90%), dan sisanya adalah sektor-sektor lain. Dari segi lapangan kerja, sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja terbesar dengan tingkat 71,68% dari total tenaga kerja di Kabupaten Solok. Sektor lain yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor transportasi 8,55% dan industri 2,44%.
Mengingatnya perannya yang sangat penting dalam pembangunan Kabupaten Solok, maka pembangunan sektor pertanian ke depan perlu diarahkan dan direncanakan dengan baik agar mampu berkontribusi signifikan terhadap pencapaian visi Kabupaten Solok pada tahun 2025 adalah menjadi “Kabupaten Terbaik dari yang Baik”. Dalam kaitan ini disusunlah Rencana Induk Pembangunan Pertanian (RIPP), yang melibatkan seluruh para pemangku kepentingan (stakeholders) di Kabupaten Solok. Dokumen RIPP tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam pembangunan pertanian yang dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan pihak terkait.
Laporan ini disusun untuk mensarikan kandungan dokumen RIPP dalam format ringkas dan representatif. Untuk memudahkan, Ringkasan Eksekutif ini disusun dengan urutan sebagai berikut: (i) catatan pengantar, (ii) kondisi eksisting, (iii) analisis SWOT, (iv) strategi dan kebijakan, serta (v) rekomendasi pengembangan.


Kondisi Eksisting
Sektor pertanian di Kabupaten Solok terbagi dalam 5 subsektor berikut ini: (i) tanaman pangan, (ii) hortikultura, (iii) perkebunan, (iv) peternakan, dan (v) perikanan. Berikut disajikan uraian singkat kondisi eksisting (terkini) masing-masing subsektor.

a) Subsektor Tanaman Pangan
Padi dan jagung merupakan komoditi dominan pertanian tanaman pangan. Produksi padi di Kabupaten Solok tahun 2005 – 2006 meningkat sebesar 1,92%, dari tingkat produksi 268.870,20 ton Gabah Kering Giling (GKG) pada tahun 2005 menjadi sebesar 274.045,00 ton GKG pada tahun 2006. Sementara itu produksi jagung turun 4,73%, dari 3.390,00 ton pada tahun 2005 menjadi 3.229,40 ton pada tahun 2006.
Komoditi tanaman pangan di Kabupaten Solok terdiri dari padi dan jagung. Penanaman komoditi ini tersebar di setiap kecamatan. Sentra-sentra produksi tanaman padi tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Solok. Sentra jagung menyebar di daerah dataran sampai daerah begelombang dari utara hingga selatan yang meliputi Kecamatan Junjung Sirih, X Koto Singkarak, Kubung, Bukit Sundi dan sebagian IX Koto Selasi.
b) Subsektor Tanaman Hortikultura 
Jenis tanaman hortikultura terdiri dari tanaman sayur–sayuran dan buah–buahan. Komoditas utama tanaman sayuran diantaranya kentang, kubis, bawang merah, tomat dan cabe. Sedangkan komoditas tanaman buah-buahan adalah markisa, alpokat, durian, jeruk dan pisang. Pada tahun 2006 jumlah produksi masing-masing komoditi adalah sebagai berikut: kentang 28.146 ton, kubis 63.924 ton, bawang merah 18.399 ton, tomat 13.962 ton dan cabe 5.014 ton. Sementara itu jumlah produksi buah-buahan pada tahun yang sama tercatat sebagai berikut: markisa 115.499 ton, alpokat 14.385 ton, durian 2.859 ton, jeruk 1.432 ton dan pisang 5.557 ton.
Daerah sentra produksi tanaman sayur-sayuran yaitu di Kecamatan Gunung Talang, Lembang Jaya, Danau Kembar dan Lembah Gumanti. Kecamatan Junjung Sirih, Kubung dan Pantai Cermin hanya merupakan sentra produksi bawang merah dan cabe. Sementara itu untuk buah-buahan, Kecamatan yang merupakan sentra produksi markisa dan alpokat adalah Kecamatan Payung Sekaki, Lembang Jaya, Gunung Talang, Danau Kembar, Lembah Gumanti, Pantai Cermin.
c) Subsektor Perkebunan
Jenis tanaman perkebunan yang potensial di Kabupaten Solok antara lain teh, kopi, coklat (kakao), karet dan cengkeh. Komoditas yang telah dikelola oleh usaha perkebunan besar adalah teh oleh PT Perkebunan Nusantara VI Gunung Talang, yang sudah terkenal dengan teh “Kayu Aro”-nya, serta kopi dan kakao yang dikelola oleh usaha perkebunan besar swasta.
Selain usaha perkebunan besar, perkebunan rakyat pun turut andil dalam memproduksi tanaman perkebunan. Dalam kurun waktu 2004 - 2007, jumlah produksi rata-rata masing-masing komoditi perkebunan rakyat tercatat sebagai berikut: kopi 4.415 ton, kakao 731 ton, karet 1.028 ton, cengkeh 428 ton, dan  teh 479 ton. Di samping komoditi di atas, petani menanam dan memproduksi kelapa 2.096 ton dan kayu manis (Cassievera) 3.308 ton.
Sentra perkebunan rakyat komoditi kopi berada pada Kecamatan Pantai Cermin, Tigo Lurah dan X Koto Singkarak. Untuk kakao sentra produksinya di Kecamatan Payung Sekaki, Kubung, IX Koto Sungai Lasi dan Gunung Talang, sedangkan untuk karet di Kecamatan Tigo Lurah, Kubung, Payung Sekaki. Kemudian, untuk cengkeh sentra produksinya di Kecamatan Lembang Jaya, Tigo Lurah, Bukit Sundi, Payung Sekaki dan IX Koto Sungai Lasi. Sedangkan teh hanya diproduksi di Gunung Talang dan Danau Kembar saja. Komoditi lainnya seperti kelapa hampir menyebar di semua kecamatan kecuali Kecamatan Lembah Gumanti, Danau Kembar dan Junjung Sirih. Sementara kayu manis sentra produksinya di Kecamatan Lembah Gumanti, Tigo Lurah, Gunung Talang dan X Koto Diatas.
d) Subsektor Perikanan 
Subsektor perikanan yang berkembang di Kabupaten Solok adalah budidaya perikanan air tawar. Budidaya ikan air tawar terdiri dari budidaya perikanan sungai, danau, kolam dan sawah. Jenis ikan budidaya yang dikembangkan antara lain ikan garing, mas, nila, nilam, mujair dan gabus. Pada tahun 2006 tingkat produksi untuk budidaya ikan di sungai 28,73 ton, budidaya ikan di kolam 358,71 ton, budidaya ikan di sawah 38,65 ton dan budidaya ikan di danau 67,88 ton.
Sentra produksi perikanan darat di Kabupaten Solok tersebar pada beberapa kecamatan yang memiliki akses terhadap sumberdaya air, baik berupa sungai, danau, atau saluran irigasi. Kecamatan di Kabupaten Solok yang memproduksi ikan air tawar adalah Kecamatan Gunung Talang, Kubung, Bukit Sundi, X Koto Singkarak, Junjung Sirih, dan Lembang Jaya.
e) Subsektor Peternakan 
Produksi peternakan besar di Kabupaten Solok pada tahun 2005 - 2006 secara umum mengalami peningkatan dalam segi pertumbuhan populasi.  Kenaikan populasi tersebut terdapat pada sapi, kerbau, kuda dan kambing. Pada tahun 2006 jumlah populasi non-unggas yaitu ternak sapi adalah sebesar 42.315 ekor, kerbau 10.876 ekor, kuda 435 ekor dan kambing 15.737 ekor. Sedangkan untuk jenis ternak unggas, produksi pada tahun 2006 untuk ayam ras petelur 40.725 ekor, ayam ras pedaging 344.230 ekor, ayam buras 300.772 ekor, itik 104.272 ekor dan burung puyuh 11.515 ekor.
Sentra produksi komoditi peternakan tersebar di seluruh kecamatan yang ada, seperti Kecamatan X Koto Diatas, Kubung dan Gunung Talang. Sementara itu perlu dicatat bahwa Kecamatan Pantai Cermin dan IX Sungai Lasi hanya merupakan daerah sentra produksi komoditi sapi potong dan ayam.

Analisa SWOT
Bagian ini memuat hasil analisa Strength  Weakness  Opportunity  Threat (SWOT). Penyajiannya dimulai dengan hasil analsis untuk sektor pertanian, dan dilanjutkan dengan hasil analisis untuk masing-masing subsektor.
Berdasarkan analisa SWOT, tantangan utama yang dihadapi Kabupaten Solok adalah kabupaten ini akan tetap menjadi tumpuan masyarakat Sumatera Barat dalam penyediaan produk pertanian dalam arti luas, dan khususnya pangan untuk memasok kebutuhan Kota Padang maupun daerah lain. Sementara itu di sisi lain luas lahan untuk pertanian relatif menyempit akibat pembangunan dan pertambahan penduduk, di samping kewajiban mempertahankan kawasan hutan di dalam jurisdiksi Kabupaten Solok.
Secara umum, kekuatan sektor pertanian Kabupaten Solok  terletak pada:
a. Sektor pertanian sebagai pilar pertumbuhan ekonomi dan diejawantahkan melalui konsep Gerakan Pertiwi
b. Penyumbang terbesar terhadap pendapatan per kapita masyarakat
c. Penyerap terbesar tenaga kerja
d. Kondisi sumberdaya alam dan lingkungan yang mendukung
e. Lokasi Solok yang strategis karena dekat dengan ibu kota Provinsi Sumatera Barat dan terletak pada daerah lintasan transportasi darat
f. Ketersediaan dukungan sarana dan prasarana (transpotasi, jalan, irigasi, dan lain-lain)
g. Kebijakan pengembangan agrowisata 
h. Berkembangnya unit usaha industri pengolahan pertanian
 i. Dukungan budaya masyarakat

Adapun kelemahan sektor pertanian yang teridentifikasi adalah sebagai berikut:
               a. Masih bertumpu pada sektor primer
               b. Permodalan masih lemah
               c. Kelembagaan pertanian masih perlu dikembangkan
               d. Koneksitas dengan sektor usaha terkait masih lemah
               e. Potensi pasar lokal, regional dan manca negara belum dimanfaatkan secara optimal
               f. Kapasitas sumberdaya manusia masih perlu dikembangkan

Terkait hal-hal di atas, berikut disampaikan beberapa catatan untuk masing-masing subsektor. Untuk subsektor tanaman pangan, catatannya adalah sebagai berikut:
Untuk dapat terus menjaga kesinambungan produksi tanaman padi, maka perlu adanya arahan keruangan untuk pengembangan pertanian tanaman pangan sehingga tingkat luasan dan produktifitas tanaman padi tetap terjaga. Kondisi ini terkait dengan adanya ancaman berkurangnya lahan produktif (persawahan) hampir di setiap kecamatan sentra produksi tanaman padi, dimana alih fungsi lahan sawah ke lahan pemukiman sebagai akibat bertambahnya penduduk. Sebagai arahan ruang untuk pengembangan kegiatan tanaman padi diutamakan pada perlindungan daerah-daerah yang saat ini sudah menjadi sentra tanaman padi. 

Catatan untuk subsektor tanaman hortikultura adalah sebagai berikut:
Pengembangan hortikultura diarahkan untuk sayuran dataran tinggi karena adanya kecocokan agroklimat untuk kegiatan ini terutama untuk daerah dataran tinggi. Arahan ruang untuk pengembangan kegiatan hortikultura yaitu pada daerah pegunungan dan dataran tinggi di Kecamatan Lembah Gumanti, Kecamatan Danau Kembar dan Kecamatan Gunung Talang.

Untuk  tanaman perkebunan, catatan pentingnya adalah sebagai berikut:
 Arahan subsektor perkebunan merupakan subsektor unggulan yang dapat memberi nilai tambah yang cukup besar dalam perekonomian wilayah. Pada wilayah Kabupaten Solok cocok untuk tanaman teh, kayu manis, cengkeh dan kopi Arabika.

Kemudian untuk subsektor perikanan, catatan pentingnya adalah sebagai berikut:
Subsektor perikanan diarahkan untuk memanfaatkan aliran-aliran sungai yang berada di Kabupaten Solok. Sentra perikanan darat di Kecamatan Kubung, X Singkarak dan Gunung Talang, sekaligus dikembangkan ternak unggas seperti ayam dan itik.

Dan akhirnya catatan untuk subsektor peternakan adalah sebagai berikut:
Secara garis besar peternakan di Kabupaten Solok terbagi dalam tiga jenis, yaitu ternak besar, ternak kecil dan unggas. Sesuai dengan agroklimat Kabupaten Solok, ternak yang dikembangkan adalah ternak ruminansia dan unggas. Ruminansia terdiri dari sapi, kerbau, kambing dan domba, sedangkan ternak unggas meliputi itik, ayam buras, ayam ras petelur dan ayam pedaging. Pengembangan ternak disesuaikan dengan topografi dan agroklimat wilayah seperti di daerah dataran rendah dikembangkan ternak besar meliputi sapi dan kerbau. Pada daerah yang bergelombang dikembangkan kambing dan domba.

Selain subsektor-subsektor di atas, disampaikan pula catatan terkait dengan pengembangan agrowisata sebagai upaya sinergi antara pembangunan sektor pertanian dengan sektor pariwisata. Catatan terkait pengembangan agrowisata adalah sebagai berikut:
Secara makro, pengembangan agrowista di Kabupaten Solok mengikuti 3 (tiga) pendekatan Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP), yaitu WPP Danau Singkarak, WPP Danau Kembar dan WPP Ibukota Kabupaten Solok Arosuka.

                Potensi sumberdaya alam dan pertanian sebagai objek dan daya tarik wisata pada setiap WPP tersebut memiliki karakteristik dan kekhasan (keunggulan) tersendiri pada produk-produk pertaniannya. Subsektor agrowisata diarahkan pada ketiga WPP dan komoditas khas/spesifik/ unggulannya. Di WPP Danau Singkarak, obyek wisata yang dapat dikembangkan untuk dijual yaitu keindahan panorama Danau Singkarak, persawahan beras “Bareh Solok” dan ikan “Bilih”nya. Di WPP Danau Kembar, obyek wisata potensial adalah keindahan panorama Danau Diatas, Danau Dibawah dan Danau Talang, panorama kebun “Markisa Solok” dan “Terong Pirus”, panorama kebun sayuran serta susu kerbau “Dadih”-nya. Kemudian obyek wisata potensial di WPP Arosuka adalah kota taman, ayam “Balenggek”, panorama sawah “Bareh Solok” dan perkebunan teh “Kayu Aro”-nya.

Strategi dan Kebijakan
Secara umum, strategi yang harus ditempuh untuk pengembangan sektor pertanian dalam lima tahun yang akan datang adalah sebagai berikut:
                Peningkatan benih atau bibit unggul bersertifikat
                Peningkatan dan perbaikan infrastruktur
                Menumbuhkembangkan kelembagaan tani
                Peningkatan sumberdaya manusia petani maupun petugas
                Fasilitas pembiayaan sarana pertanian dengan penyediaan dana penguatan modal usaha
                Memfasilitasi kemitraan petani dan pelaku usaha
                Menumbuhkan dan menggalakkan kegiatan pasca panen dan pengolahan
Kebijakan yang perlu ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Solok dalam pengembangan sektor pertanian adalah menciptakan kondisi berusaha yang kondusif bagi pelaku utama dan pelaku usaha. Disamping itu perlu memperkuat kelembagaan dan kemitraan yang tangguh dan partisipasif.
Dari sisi produksi, semua subsektor masih mungkin ditingkatkan dengan mengatur faktor produksi sehingga dapat menghasilkan produk yang kompetetif, sekaligus dapat mensejahterakan petani sebagai pelakunya. Ke depan, diharapkan petani Solok sudah mulai berbenah untuk tidak lagi menjual produk primer, tetapi menjual komoditi pertanian yang sudah diolah sehingga memiliki nilai tambah. Seperti diketahui bahwa nilai tambah produk pertanian terletak pada sisi pengolahan. Dengan demikian masyarakat Kabupaten Solok dapat menikmati keunggulan produk pertanian mereka.
Upaya di atas perlu dilengkapi dengan pengembangan teknik pasca panen produk pertanian tersebut, sehingga faktor susut dan kehilangan dapat ditekan serendah mungkin. Selain itu, para pelaku pertanian perlu diberi bimbingan dan penyuluhan agar bertindak cerdas dalam menggunakan faktor produksi (pupuk, pestisida, dan lain-lain), karena dari pengamatan lapangan penggunaan pupuk saat ini telah berlebihan dan ini dapat membahayakan lingkungan, selain pada akhirnya dapat memukul balik sektor pertanian sendiri. Selain itu beberapa komoditi yang telah memiliki nama (good branding), seperti Bareh Solok, hortikultura organik, dan ternak potong perlu terus diupayakan agar diangkat, sehingga Solok semakin dikenal yang pada gilirannya akan menjadi daya tarik wisata bagi para tamu yang berkunjung ke Sumatera Barat.

Rekomendasi Pengembangan
Secara umum pengembangan sektor pertanian diarahkan pada hal-hal berikut ini: (i) peningkatan produksi masing-masing subsektor, (ii) peningkatan ketahanan pangan, (iii) peningkatan penerapan teknologi, (iv) peningkatan industri pengolahan (agroindustri), (v) peningkatan kemampuan dan pemberdayaan penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan (vi) peningkatan kesejahteraan petani. Rekomendasi terinci masing-masing subsektor disajikan pada bagian berikut ini.
Subsektor Tanaman Pangan – Pengembangan subsektor tanaman pangan terutama terdiri dari komoditi padi, jagung, kedelai. Rekomendasi untuk subsektor ini disajikan pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Rekomendasi Pengembangan Subsektor Tanaman Pangan
Komoditi
Rekomendasi Pengembangan
Padi
>Sentra padi di Kecamatan Kubung, Gunung Talang, Bukit Sundi, Lembang Jaya dan X Koto Singkarak dipertahankan sebagai penghasil bareh Solok.
 >Perlunya dukungan kebijakan dan peraturan daerah agar sentra beras ditetapkan sebagai lahan pertanian sawah abadi di Kabupaten Solok agar tidak terjadi ahli fungsi lahan ke non pertanian.
>Saluran irigasi dipelihara dan selalu terjaga, sehingga irigasi tidak terganggu.
 Meningkatkan indeks pemanenan.
>Mengembangkan percontohan persawahan organik yang diintegrasikan dengan kegiatan peternakan.
>Diupayakan untuk membuat produk beras kemasan organik dan membuat produk olahan berbasis beras sehingga memberi nilai tambah
Jagung
 >Meningkatkan produksi dan produktifitas jagung dengan menggunakan benih jagung yang bersertifikat
 > Membuat percontohan pertanian jagung dengan peternakan secara terpadu
>Menyusun formula pakan ternak mandiri
>Memperluas pasar di dalam dan luar Solok

Kedelai
 >Meningkatkan produksi dan produktifitas serta luas panen kedelai sebagai penyedia protein nabati untuk meningkatkan gizi masyarakat
>Mensosialisasikan peran penting pemenuhan gizi bagi masyarakat dalam rangka membangun sumber daya manusia yang berkualitas
 >Mengenalkan produk turunan kedelai menjadi bentuk yang mudah dikonsumsi oleh masyarakat (misalnya susu kedelai, tempe dll)
>Melakukan perluasan pasar baik di dalam maupun ke luar solok
 Subsektor hortikultura – Komoditi subsektor ini meliputi komoditi sayuran, buah-buahan dan tanaman hias. Sayuran terdiri dari kentang dan kubis; buah-buahan terdiri dari markisa dan terung pirus yang merupakan komoditi (unggulan), serta alpukat, durian, dan melon yang merupakan komoditi andalan. Kemudian untuk hortikultura tanaman hias baru komoditi bunga Krisan sebagai komoditi andalan. Rekomendasi pengembangan subsektor hortikultura disajikan pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Rekomendasi Pengembangan Subsektor Hortikultura
Komoditi
Rekomendasi Pengembangan
Sayuran (kentang, kubis)
>Menyediakan bibit kentang  G4 di sentra produksi
>Menyediakan informasi pasar yang selalu up to date
> Menyediakan sarana pasar baik di sentra produksi dan di daerah lintasan di dekat Arosuka
 >Melakukan percontohan hortikultura organik dan diintegrasikan dengan kegiatan peternakan sehingga terbentuk Bio Cyclo Farming (BCF)
>Perlunya sosialisasi ke masyarakat tentang pengendalian penggunaan pestisida agar tidak berlebih.
Buah-buahan
>Mengembangkan kualitas buah-buahan yang sudah memiliki pasar (seperti markisa, buah terung pirus, pisang)
> Mengembangkan buah olahan dalam bentuk sirup dan aneka dodol dari markisa dan terung pirus dengan kemasan yang menarik
>Perlunya  membuat citra produk khas Solok sebagai identitas Solok
Tanaman hias
>Mengembangkan bunga krisan yang sudah mulai dikenal, dan pengembangan bunga sedap malam, mawar untuk melengkapi taman kota dan sebagai kawasan wisata
 >Mengembangkan bibit unggul bunga yang sudah memiliki pasar dengan bekerjasama dengan Balai penelitian bunga
>Mengembangkan sumber daya manusia untuk mengembangkan bunga potong melalui pelatihan budidaya dan penanganan pasca panennya

Subsektor Perkebunan – Komoditi tanaman perkebunan yang diunggulkan sebagai komoditi unggulan daerah adalah kopi, kakao (coklat), karet dan cengkeh. Rekomendasi pengembangan subsektor perkebunan disajikan pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Rekomendasi Pengembangan Subsektor Perkebunan
Komoditi
Rekomendasi Pengembangan
Kopi, kakao (coklat), karet dan cengkeh
                          Peningkatan produksi dan produktivitas tanaman perkebunan melalui:
> Intensifikasi budidaya tanaman (penanaman dengan bibit unggul, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, penerapan teknologi tepat guna) sesuai anjuran dan penanganan pasca panennya.
 >Penggunaan bibit tanaman unggul bermutu dan bersertifikat.
>  Ekstensifikasi lahan baru atau perluasan areal peruntukan perkebunan sesuai arahan Rencana Tata Ruang Kabupaten Solok, serta kesesuaian dan daya dukung lahan.
  >Pengadaan dan penyediaan sarana produksi perkebunan seperti bibit unggul, pupuk, pestisida, herbisida dan teknologi tepat guna dan lain-lain.
                        
 Peningkatan kesejahteraan petani perkebunan melalui:
> Penyuluhan dan pelatihan budidaya, penanganan pasca panen dan penerapan teknologinya.
> Pembinaan dan pemberdayaan kelembagaan petani seperti kelompok tani dan asosiasi petani pada komoditi kopi.
> Memfasilitasi permodalan bagi petani perkebunan.
> Pengembangan perkebunan berintegrasi dengan peternakan yaitu antara kakao dengan ternak sapi di mana limbah kulit kakao dimanfaatkan untuk pakan sapi dan limbah sapi untuk pupuk organik tanaman kakao.
> Melakukan perhatian pula pada komoditi perkebunan yang banyak ditanam petani seperti kelapa (dalam), kayu manis dan kemiri
Peningkatan pemasaran produk-produk unggulan perkebunan daerah melalui:
> Kegiatan promosi produk unggulan daerah.
> Memfasilitasi kerjasama regional, nasional dan internasional dalam penyediaan hasil-hasil produk perkebunan.
> Penyuluhan dan pelatihan agribisnis bagi petani dan pelaku agribisnis perkebunan.
> Penyediaan tenaga terampil di bidang budidaya perkebunan dan agribisnisnya.
> Pemberdayaan tenaga-tenaga penyuluh perkebunan melalui perbaikan mutu SDM, sarana dan prasarana serta kesejahteraannya.
> Perlunya penambahan sumberdaya manusia untuk menyiapkan bibit tanaman perkebunan
> Penyediaan sarana laboratorium untuk menyediakan bibit  tanaman perkebunan sehingga tidak bergantung dari luar Solok


Subsektor perikanan – Pemanfaatan sumberdaya air yang berlimpah di Kabupaten Solok, terutama perairan danau, serta pemberdayaan peran Balai Benih Induk untuk penyediaan bibit dan pakan ikan perlu semakin ditingkatkan. Terkait dengan pengembangan ikan endemik lokal, ikan bilih, perlu segera dilakukan tindakan nyata bersama Pemerintah Kabupaten Tanah Datar dan  Provinsi Sumatera Barat. Sebaiknya pihak provinsi dapat berperan lebih aktif dalam mengambil alih pengembangan ikan bilih ini mengingat statusnya sudah mendesak untuk dibudidayakan. Sementara itu rekomendasi pengembangan subsektor perikanan disajikan pada Tabel 4 berikut ini.

 Tabel 4. Rekomendasi Pengembangan Subsektor Perikanan
Komoditi
Rekomendasi Pengembangan
Ikan air tawar (nila, mas, nilam, mujair)
>Mengoptimalkan peran BBI selain sebagai penyedia benih ikan juga difungsikan sebagai penyedia pabrik pakan mini menggunakan bahan lokal.
> Meningkatkan peran penyuluh lapangan dalam budidaya ikan.
>Mensinergikan peran kelembagaan perikanan yang telah tersedia dan menangani perikanan mulai dari Dinas Perikanan, Unit Pelayanan Perikanan (UPP) dan Tenaga Pelayanan Teknologi (TPT) dari Departemen Kelautan dan Perikanan.
>Meningkatkan pengawasan dalam penggunaan jaring penangkap ikan bilih dengan ukuran jaring lebih kecil agar ikan bilih terjaring berukuran maksimal.
 >Mengoptimalkan ikan bilih sebagai brand imageikan dari Danau Singkarak.
 Perlunya pengembangan budidaya ikan bilih dan disinergikan dengan program  di tingkat provinsi dalam mengembangkan ikan endemik lokal ini.

Subsektor Peternakan – Pengembangan peternakan diarahkan untuk ruminansia besar (sapi, kerbau) dan kecil (kambing, domba) serta unggas. Rekomendasi pengembangan subsektor peternakan ditampilkan pada Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Rekomendasi Pengembangan Subsektor Peternakan
Komoditi
Rekomendasi Pengembangan
Ruminansia 
>Meningkatkan populasi ternak betina produktif 80% dari total populasi.
>Mengaplikasikan teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan, embrio transfer, penyerantakan birahi dan lain-lain untuk mengoptimalkan betina produktif.
>Mengaplikasikan teknologi pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan pakan kerbau melalui teknologi proses (amoniasi, fermentasi dan lain-lain)
>Mengoptimalkan produk susu kerbau “Dadih” melalui promosi pasar dan teknologi pengemasannya terutama di daerah Air Dingin (Kecamatan Lembah Gumanti).
>Meningkatkan jumlah usaha pengolahan produk hasil ikutan kerbau (kerupuk kulit dan dendeng rabu).
> Mengaplikasikan sistem pertanian terpadu antara ternak kerbau dengan pertanian padi, coklat dan jagung.
>Meningkatkan populasi ternak kambing 20% per tahun, terutama di wilayah-wilayah yang mendukung penyediaan bahan pakannya atau Indeks Daya Dukung Pakan (IDDP)-nya tinggi, seperti Kecamatan Payung Sekaki dan Kecamatan Tigo Lurah. 
>Meningkatkan produktivitas kambing melalui penerapan teknologi budidaya dan reproduksi untuk mengurangi kematian ternak dan meningkatkan jumlah kelahiran.
>Memaksimalkan pemanfaatan bahan pakan ternak dari limbah pertanian melalui penerapan teknik-teknik pengolahan bahan pakan.
 >Meningkatkan SDM peternak kambing melalui pelatihan dan penyuluhan secara langsung di kelompoknya. 
>Membantu promosi penjualan ternak kambing untuk kebutuhan hari raya dan kegiatan-kegiatan tertentu (iklan brosur, website, radio dan sebagainya).
>Melakukan diversifikasi jenis bahan pakan ternak kambing melalui penanaman jenis-jenis HMT pohon (gamal, kaliandra, lamtoro dan sebagainya)
> Menciptakan usaha-usaha pengolahan hasil dari produk ikutan ternak kambing (kulit, tanduk dan sebagainya).                     

Ayam Buras
>Mengintensifikasikan peternakan ayam buras melalui perubahan sistem budidaya.
> Melakukan usaha pelestarian dan pengembangan ayam kukuak “Balenggek” melalui pembangunan unit pembibitan dan pemurnian ayam kukuak Balenggek.
> Meningkatkan pengendalian dan pencegahan penyakit.
>Mengembangkan model integrasi dengan pertanian, melalui pembuatan pupuk organik dari kotoran ayam, serta pengolahan pakan menggunakan bahan pakan limbah pertanian (dedak padi, bungkil kelapa dan lain-lain). 
>Memberikan bantuan modal usaha melalui investasi pembuatan kandang ternak, sehingga peternak dapat melakukan program kemitraan penyediaan sarana produksi.
>Melakukan optimalisasi program kemitraan diantara peternak dengan penyediaan sarana produksi.
 >Mengembangkan model integrasi dengan perikanan (ayam dengan ikan).
Itik
 >Merencanakan pembentukan kawasan terpadu budidaya itik mulai dari penetasan, pembesaran, penggemukan dan produksi telur serta usaha pabrik pakan dan penyediaan obat serta pemasaran.
>Mengembangkan model integrasi dengan pertanian (itik dengan ikan)
>Mengembangkan produk olahan telur itik dan daging itik.

Terkait dengan pengembangan agrowisata, saat ini citra produk atau ikon komoditi pertanian Kabupaten Solok telah terbentuk melalui rangkaian komoditi berikut ini:
            1. Tanaman pangan beras “Bareh Solok” dan jagung “Andalas”
            2. Hortikultura sayuran: kentang dan kubis organik
            3. Hortikultura buah-buahan: markisa, terung Pirus, alpukat, durian, melon
            4. Hortikultura tanaman hias: bunga Krisan
            5. Tanaman perkebunan: teh “Kayu Aro”
            6. Komoditi perikanan: Ikan “Bilih” Singkarak
            7. Komoditi peternakan: ayam jago Kukuak “Balanggek” dan susu kerbau “Dadih”

Ketujuh citra produk (Brand Image) pertanian di atas, ternyata menyebar di setiap Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP) Kabupaten Solok. Kondisi demikian tentunya merupakan nilai tambah (keuntungan) bagi pengembangan agrowisata Kabupaten Solok, sehingga dalam pengembangan ke depan perlu dilakukan dan direkomendasikan suatu konsep zonasi Kawasan Pengembangan Agrowisata (KPA) Kabupaten Solok, yang terdiri dari KPA Arosuka dan KPA Danau Singkarak. Rekomendasi pengembangan masing-masing KPA disajikan pada Tabel 6 berikut ini.
  
Tabel 6. Rekomendasi Pengembangan Agrowisata Kabupaten Solok
KPA
Rekomendasi Pengembangan
Arosuka












                         a. Fungsi kawasan: sebagai pusat kunjungan agrowisata  dan pusat pengembangan pariwisata Kabupaten Solok, sehingga wisatawan berminat menginap (tidak hanya singgah saja)
                        b. Ikon agrowisata: taman kota, ayam jago Kukuak “Balenggek”, teh “Kayu Aro” 
                        c. Objek dan daya tarik agrowisata :
                         Lansekap taman kota Arosuka
                         Kawasan Taman Hutan Kota Terpadu
                         Kebun budidaya dan pembibitan tanaman hias/bunga 
                         Berlibur di nagari pertanian (vacation on farm)
                         Lomba kukuak ayam jago “Balenggek” dan kicau burung
                         Pengadaan demo-farm atau unit-unit usahatani pembibitan/penangkaran ayam Balenggek di salah satu Nagari KPA Arosuka
                         Panorama perkebunan teh “Kayu Aro”, pabrik pengolahan teh dan tea walk
                        d. Objek dan daya tarik non-agrowisata:
                         Panorama Gunung Talang
                         Panorama kompleks perkantoran Pemda Kabupaten Solok
                         Tempat-tempat sejarah dan budaya
                        e. Objek dan daya tarik non-agrowisata:
                         Panorama Gunung Talang
                         Panorama kompleks perkantoran Pemda Kabupaten Solok
                         Tempat-tempat sejarah dan budaya
                        f. Fasilitas yang sebaiknya tersedia:
                         Tempat/pusat rekreasi sebagai titik awal kunjungan wisatawan atau tempat santai wisatawan, seperti: taman kota, taman hutan kota terpadu, bioskop, teater seni budaya dan lain-lain.
>Hotel, villa/cottage atau rumah inap khas Minangkabau (rumah inap nagari)
>Rumah-rumah makan yang menyajikan panganan pendukung wisata kuliner
>Toko/kios cinderamata yang menjual kerajinan tangan dan kuliner khas Solok
>Gedung Pusat Informasi Pariwisata dan Potensi Kabupaten Solok
>Pertunjukan seni budaya khas Minangkabau
Danau Singkarak
a. Fungsi kawasan: sebagai paket kunjungan pesona alam dan agrowisata
b. Ikon agrowisata: ikan “Bilih”, padi “Bareh Solok”
c. Objek dan daya tarik agrowisata:
  >Perikanan tangkap/mancing ikan “Bilih” atau ikan lainnya (sasau, asang, piyek, balingka, baung) dan pengolahan kuliner berbahan baku ikan Bilih
 >Perikanan karamba jaring apung (KJA) di Danau Singkarak
 >Panorama sawah dan budidaya “Bareh Solok” serta pengolahan kuliner berbahan baku Bareh Solok
 >Kebun buah-buahan durian, melon dan lain-lain 
 >Kunjungan ke BALITBU untuk melihat budidaya dan membeli bibit unggul buah-buahan
>Peternakan bibit unggul sapi untuk melihat cara-cara memperoleh bibit unggul
Danau Singkarak
d. Objek dan daya tarik non-agrowisata :
                         Panorama Alam Danau Singkarak dan rekreasi perairannya
                         Festival Danau Singkarak
                         Panorama Danau Tuo Ujung Ladang (viewing)
                         Kereta api wisata dari Kota Solok menuju Padang menelusuri Danau Singkarak
                         Tempat-tempat sejarah dan budaya 
                         Paralayang
                         Lomba perahu
                        e. Fasilitas yang sebaiknya tersedia :
                         Tempat/pusat rekreasi (titik awal kunjungan wisatawan/tempat santai) yaitu di Taman Dermaga Singkarak atau tempat lainnya yang memadai
                         Sarana dan prasarana wisata air  (perahu wisata, sepeda air, jet ski dan lain-lain)
                         Akses jalan menuju objek-objek wisata
                         Akses transportasi (angkutan umum, tavel biro, bus wisata, dan lain-lain)
                         Rumah makan yang menyajikan wisata kuliner “Bareh Solok”, ikan “Bilih” Singkarak dan buah-buahannya
                         Kios-kios cenderamata kerajinan tangan dan kuliner khas rakyat setempat
                         Hotel dan penginapan
                         Pertunjukan seni budaya setempat
                         Camping groundoutbound dan menara pandang













































Untuk menunjang aspek pemasaran yang merupakan faktor penting dalam menjual produk hasil pertanian, maka diperlukan sarana pasar yang memadai seperti untuk hortikultura disediakan di dekat Arosuko yang banyak dilewati pengunjung serta disiapkan sarana informasi pasar yang dapat diakses oleh petani langsung. Pemasaran produk pertanian kedepan juga diarahkan pada produk yang bersih dan produk olahan sehingga dapat memberi nilai tambah.
Guna menunjang pengembangan sektor pertanian secara keseluruhan maka diperlukan sarana produksi penunjang seperti penyediaan pupuk, benih unggul, dan pemberantasan hama yang selalu tersedia. Pupuk merupakan sarana produksi yang penting untuk meningkatkan produksi pertanian. Oleh sebab itu kelancaran ketersediaan pupuk dalam jumlah dan waktu yang tepat merupakan faktor pendukung yang harus dipenuhi.
Dalam kaitannya pembangunan pertanian ini, faktor lingkungan menjadi isu penting agar keberlanjutan pembangunan pertanian dapat berjalan dengan baik. Untuk itu perlunya sosialisasi kepada petani dalam penggunaan pupuk dan pestisida yang berkelebihan dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan (lahan dan air). 

Dengan adanya RIPP ini diharapkan masing-masing SKPD akan mengikuti dalam implentasi dan mematuhi rencana yang telah ditetapkan. Dalam kaitan ini diperlukan dukungan peraturan daerah (Perda) melalui Surat Keputusan Bupati Solok agar memiliki kekuatan hukum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar